BEM Untag Surabaya Lolos Pendanaan Kemendiktisaintek Program Mahasiswa Berdampak 2025

  • 15 Desember 2025
  • 2980

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag Surabaya lolos sebagai penerima pendanaan Program Mahasiswa Berdampak 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), sebuah program nasional perdana yang mendorong kontribusi nyata mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.


Dari ribuan perguruan tinggi di Indonesia, BEM Untag Surabaya masuk dalam jajaran ratusan perguruan tinggi yang dinyatakan lolos pendanaan, sekaligus menjadi perwakilan Untag Surabaya dalam implementasi Program Mahasiswa Berdampak 2025.


Pelaksanaan program ini dibina oleh Ar. Febby Rahmatullah Masruchin, S.T., M.T. selaku ketua dan pembina, dengan didampingi Moh. Nor. Ali Aziz, S.T., M.T. serta Handy Febri Satoto, S.T., M.T. sebagai dosen pendamping. Program ini melibatkan 20 mahasiswa pengurus BEM Untag Surabaya 2025 dari lintas fakultas yang terlibat aktif sejak tahap perencanaan hingga implementasi di lapangan.


Koordinator utama tim adalah Marzhanda Eka Dyanita, yang didukung oleh 19 anggota tim lainnya, yakni Devi Novita Sari, Suci Cahyani, Nadila Eka Anggini, Miftakhul Alifia, Linata Zaidatun Nadhifah, Gusti M. Mufid Daffa A., Eka Widian M.S, Gilang Fajar Nur Ainun, Dwi Insan Pinayungan, Syahrial Fathur Rozi Darmawan, Javed Ahmad Altaf, Muhammad Ilham Arifin, Fashya Khoerunnisa, Aqilah Ayu Tsabitah, M. Bayu Permana H., Salshabilla Nur Maharani, Fajar Dwi Priyanto, dan Angely Vallery Loppies.


Program ini dilaksanakan pada September–Desember 2025 di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, dengan menggandeng Komunitas Tani Organik Brenjonk sebagai mitra ekonomi yang memiliki 43 anggota aktif dan lahan organik seluas 18 hektare, serta Pokdarwis ALAS sebagai mitra non-ekonomi yang mengelola kawasan hutan seluas 34,65 hektare.


Melalui kolaborasi tersebut, BEM Untag Surabaya menjalankan lima program utama, yakni penerapan pompa hidram tanpa listrik, pengembangan aplikasi pertanian terintegrasi, penguatan pemasaran online dan offline, peningkatan keterampilan siaga bencana, serta pengembangan usaha baru berbasis hasil hutan dengan dukungan mesin produksi bernilai ekonomis.


Koordinator utama tim, Marzhanda Eka Dyanita, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolaboratif mahasiswa dan dosen pendamping. Ia mengungkapkan bahwa proses menuju kelolosan program tidak lepas dari rangkaian survei dan pemetaan kebutuhan desa.


“Tidak menyangka saat BEM Untag Surabaya dinyatakan lolos. Kami lolos pendanaan dan dapat merealisasikan program pemberdayaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Semua terbayar dengan bangga setelah saya dan dosen pembina mondar-mandir untuk survei desa,” terang mahasiswa SISTEKIN semester 5 tersebut. (15/12)


Setiap program dijalankan terstruktur sesuai kebutuhan masyarakat, dengan pendampingan dan pelatihan agar dapat diimplementasikan secara berkelanjutan. Pada awalnya, tim BEM Untag Surabaya mempertimbangkan Desa Kebun Tunggul dan Desa Penanggungan sebagai sasaran, akhirnya memilih Desa Penanggungan setelah pemetaan kebutuhan dan kerentanan desa.


“Kita melihat permasalahan desa yang paling rentan, jadi kita pilih Desa Penanggungan. Sesuai dengan skema ‘Mahasiswa Berdampak’, maka dari itu kita pilih mana yang sekiranya perlu kita beri dampak nyata,” jelas Eka.


Desa Penanggungan dipilih karena membutuhkan inovasi dan teknologi, dan program dibagi ke dua kategori mitra agar mahasiswa memahami tugas dan tanggung jawabnya.


“Pada Mitra 1, kami membaginya menjadi tiga subkelompok dengan fokus pengembangan di Desa Tani Brenjonk, mulai dari pemanfaatan pompa hidram, pembuatan aplikasi jual beli hasil pertanian, hingga penguatan pemasaran melalui media online dan offline. Sementara itu, Mitra 2 dibagi menjadi dua subkelompok yang berfokus pada Kelompok Tani Hutan dan Kelompok Wanita Tani dengan program tanggap bencana serta pengolahan hasil hutan menjadi produk minuman seduh,” pungkas Eka.


Pembina program, Ar. Febby Rahmatullah Masruchin, S.T., M.T., menyampaikan apresiasinya atas capaian mahasiswa BEM Untag Surabaya.


“Program Mahasiswa Berdampak menjadi wujud nyata implementasi keilmuan mahasiswa dalam menjawab persoalan masyarakat. Saya bangga karena mahasiswa BEM Untag Surabaya mampu berkontribusi langsung, khususnya dalam penguatan ketahanan masyarakat Desa Hutan Penanggungan,” ujarnya (15/12).


Capaian ini menegaskan komitmen Untag Surabaya dalam mendukung peran mahasiswa sebagai agen perubahan serta memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat yang berkelanjutan. (Eka)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\