Di salah satu sudut Kampung Semolowaru, Surabaya, warga tampak duduk melingkar sambil mencoba melafalkan kata-kata bahasa Inggris dengan santai. Sesekali terdengar tawa kecil ketika pengucapan yang diulang terasa asing di lidah. Kelas kedua dari Kampung Bahasa Semolowaru binaan Program Studi Sastra Inggris FIB Untag Surabaya yang digelar pada Kamis (4/6) justru terasa dekat dengan keseharian warga, menghadirkan suasana belajar yang cair dan tidak berjarak.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dirancang untuk menghadirkan akses pembelajaran bahasa asing yang lebih mudah dijangkau. Tidak hanya soal bahasa, pertemuan ini juga menjadi ruang interaksi lintas usia, tempat anak-anak, remaja, hingga orang tua belajar bersama dalam suasana yang cair.
Di antara peserta yang hadir, terdapat Sinta Tjandrasari, seorang ibu rumah tangga sekaligus wirausaha kerajinan berbahan daun daur ulang. Bagi Sinta, kesempatan ini menjadi ruang untuk kembali menyentuh kemampuan bahasa Inggris yang pernah ia gunakan saat bekerja di dunia perhotelan.
Sebelum menikah, ia terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam aktivitas kerja sehari-hari. Namun seiring waktu, kemampuan itu jarang terpakai. Kini, Kampung Bahasa Semolowaru menjadi ruang baginya untuk kembali membangun rasa percaya diri dalam berkomunikasi.
“Dulu saya belajar bahasa Inggris secara otodidak karena tuntutan pekerjaan di perhotelan. Setelah menikah sudah tidak terlalu akrab lagi dengan bahasa Inggris, jadi sekarang ingin mengembalikan kemampuan itu,” ujarnya (4/6)
Ia mengaku kemampuan bahasa Inggris masih relevan untuk kehidupan sehari-hari maupun pengembangan usaha yang dijalankannya. Bahkan, ia berharap keterampilan tersebut dapat membuka peluang baru sekaligus memperluas relasi usahanya.
Selama sesi berlangsung, peserta mendapatkan materi dasar seperti membaca (reading), berbicara (speaking), dan tata bahasa (grammar). Kelas dibuat lebih hidup melalui permainan edukatif yang melatih kemampuan mendengarkan (listening), sehingga proses belajar terasa ringan dan tidak kaku.
Peserta yang hadir pun beragam, mulai dari anak-anak taman kanak-kanak, siswa sekolah dasar, mahasiswa, hingga orang tua dan lanjut usia. Meski berbeda usia dan latar belakang, mereka tampak mengikuti setiap arahan pengajar dengan antusias, tanpa jarak antara satu dengan yang lain.
Sinta mengaku menikmati cara belajar yang diterapkan. Ia menyebut setiap pertemuan menghadirkan suasana berbeda. Pada sesi pertama, peserta dikenalkan dengan materi perkenalan diri (introduction), sementara pada pertemuan kedua suasana dibuat lebih interaktif lewat permainan yang membuat peserta lebih berani berbicara.
“Pertemuan pertama belajar introduction. Kalau sekarang lebih seru karena ada permainan, jadi lebih semangat untuk belajar,” katanya.
Lebih dari sekadar kelas bahasa, Sinta tak menyangka bisa kembali belajar bahasa Inggris di lingkungan yang begitu dekat dengan tempat tinggalnya.
“Kegiatan ini sangat menarik dan bermanfaat. Saya tidak pernah terpikir sebelumnya untuk mengikuti kelas bahasa Inggris, tetapi program yang dihadirkan Untag Surabaya memberikan kesempatan bagi saya dan warga lainnya untuk belajar bersama serta meningkatkan kemampuan yang bisa berguna dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Di Kampung Semolowaru sore itu, bahasa Inggris tidak lagi terasa seperti pelajaran yang jauh dan kaku. Ia berubah menjadi percakapan sederhana, tawa kecil, dan keberanian baru warga untuk mencoba hal yang dulu tak pernah mereka bayangkan. (Dini)