Hari Anak Nasional Cetak Generasi Resilien Menuju Indonesia Emas 2045

  • 23 Juli 2025
  • 3248

Ketangguhan suatu bangsa pada dasarnya berakar dari ketangguhan individu-individu di dalamnya. Anak-anak sebagai generasi penerus memegang peranan penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Namun, ketangguhan itu tidak cukup dibentuk lewat pendidikan akademik semata. Pemenuhan kebutuhan psikososial yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal juga menjadi landasan utama.


Resiliensi Tumbuh dari Pola Asuh


Salah satu aspek psikososial penting yang perlu dimiliki anak sejak dini adalah resiliensi.  Resiliensi bukan hanya kemampuan bertahan dalam tekanan, tetapi juga kemampuan untuk bangkit kembali dengan pembelajaran dan kekuatan baru setelah menghadapi kegagalan atau tantangan hidup.


Dalam proses pembentukan resiliensi, kelekatan antara orang tua dan anak memiliki peran yang sangat besar. Ketika orang tua memiliki kelekatan yang baik dengan anak, hal ini akan berdampak pada relasi sosial anak, situasi akademik, serta cara mereka menyelesaikan masalah. 


Pola asuh yang hangat, terbuka, responsif, dan tegas, menjadi pendekatan terbaik dalam menumbuhkan karakter anak yang sehat secara emosional dan sosial. Pendekatan seperti ini menumbuhkan rasa aman, penerimaan, kepekaan terhadap lingkungan sosial, serta daya juang dalam berbagai aktivitas yang dijalani anak.


Belajar dari Masalah Sejak Dini


Strategi membangun resiliensi dapat dimulai dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan masalah dengan rintangan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dari proses ini, anak belajar bahwa kesulitan adalah bagian alami dari perkembangan diri. 


Memberikan pujian yang realistis atas usaha yang dilakukan anak juga penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga anak menyadari bahwa diri. Dengan begitu, anak akan menyadari bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan lainnya di masa depan. 


Sayangnya, masih banyak tantangan besar yang menghambat pemenuhan kebutuhan psikososial anak di Indonesia. Pemerataan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan belum optimal, serta rendahnya literasi pengasuhan di masyarakat, turut membatasi stimulasi yang dibutuhkan anak untuk bertumbuh menjadi pribadi yang tangguh.  


Jika kondisi ini terus dibiarkan, berbagai masalah psikologis seperti kecemasan, kesulitan belajar, hingga penurunan kualitas sumber daya manusia bisa muncul dan mengancam masa depan bangsa.


Hari Anak Nasional Cetak Generasi Tangguh 2045


Anak-anak yang memiliki resiliensi kuat akan tumbuh menjadi individu yang mampu mengelola emosi, menjalin interaksi sosial yang sehat, peka terhadap lingkungan, serta memiliki keberanian berjuang dalam mencapai tujuan hidupnya. Dalam dunia yang penuh dinamika dan ketidakpastian, resiliensi menjadi bekal penting agar anak tetap kuat dan stabil secara mental.


Generasi yang memiliki resiliensi tinggi adalah fondasi penting dalam pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, hangat, dan mendukung kebutuhan psikososial mereka, maka masa depan bangsa akan dihuni oleh pribadi-pribadi yang tidak hanya cerdas, tapi juga tangguh dan siap menghadapi perubahan zaman dengan optimisme dan kesiapan mental. (Gisela)


*) Dr. Isrida Yul Arifiana., M.Psi., Psikolog - Dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\