Setiap tanggal 9 Februari, pers Indonesia menandai satu momen penting dalam perjalanan demokrasi nasional. Pada tahun 2026, peringatan Hari Pers Nasional (HPN) akan berlangsung di Kota Serang, Banten, pada 7 hingga 9 Februari, menghadirkan insan pers dari berbagai penjuru tanah air dalam suasana kebersamaan dan refleksi.
Hari Pers Nasional tidak pernah sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Peringatan ini bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1946, organisasi yang sejak awal berdiri membawa semangat kemerdekaan pers dan tanggung jawab sosial.
Tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” yang diusung pada HPN 2026 menegaskan hubungan erat antara kualitas pers, ketahanan ekonomi, dan kekuatan bangsa. Tema tersebut menjadi pengingat bahwa keberlanjutan pers tidak hanya diukur dari kecepatan menyampaikan berita, tetapi juga dari integritas serta keberpihakan pada kepentingan masyarakat.
Dilansir dari detik.com, Provinsi Banten dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan HPN 2026 dengan rangkaian agenda yang dirancang inklusif. Sejumlah kegiatan seperti seminar jurnalistik, forum kebangsaan, kegiatan sosial, pameran UMKM, serta pameran foto jurnalistik disiapkan sebagai ruang pertemuan antara pers dan masyarakat. Keterlibatan publik menjadi salah satu wajah penting peringatan HPN tahun ini.
Pameran UMKM dan foto jurnalistik menghadirkan karya yang lahir dari realitas sosial sehari-hari, sekaligus membuka ruang apresiasi terhadap peran pers dalam mendokumentasikan dinamika masyarakat. Melalui pendekatan ini, pers hadir bukan sebagai menara gading, melainkan bagian dari kehidupan publik.
Identitas lokal Banten ditampilkan melalui maskot Si Juhan yang terinspirasi dari Badak Jawa dan nilai luhur masyarakat Baduy. Sosok ini merepresentasikan ketangguhan, kesederhanaan, dan kejujuran, nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip dasar jurnalistik. Kehadiran Si Juhan menegaskan bahwa pers yang kuat tetap berpijak pada kearifan lokal dan kepentingan publik.
Masih merujuk pada Portal Resmi Provinsi Banten, setiap elemen visual Si Juhan memuat filosofi yang merefleksikan kerja jurnalistik. Pena dan buku catatan melambangkan pencatatan fakta dan suara masyarakat, sementara tas koja dimaknai sebagai ruang penghimpun aspirasi publik yang menjunjung keberlanjutan dan keseimbangan. Gestur tangan yang melambai menjadi simbol keterbukaan pers terhadap dialog dan kritik.
Hari Pers Nasional 2026 juga menjadi pengingat posisi pers dalam sistem demokrasi. Sejarah mencatat bahwa pers Indonesia tumbuh seiring perjuangan bangsa, menjadi medium penyampai gagasan, kritik, dan harapan rakyat. Dalam konteks kekinian, peran tersebut tetap relevan ketika publik membutuhkan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipercaya.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Fransisca Benedicta A. Citra Paramita, S.I.Kom., M.Med.Kom., menilai tema HPN 2026 sangat relevan jika ditarik ke konteks dunia pendidikan.
“Kampus dan pers memiliki misi yang serupa, yakni sama-sama memproduksi pengetahuan untuk publik. Pers yang sehat seharusnya membantu dunia pendidikan menciptakan ekosistem belajar yang kritis, bukan sekadar informatif,” jelasnya (10/2)
Media yang sehat, menurutnya, tidak hanya menampilkan pro dan kontra, tetapi juga menjelaskan basis ilmiah serta risiko disinformasi.
“Hal ini penting karena publik kerap memperoleh informasi lebih dulu dari TikTok atau WhatsApp dibanding media arus utama. Dalam konteks ini, pers seharusnya hadir sebagai ruang verifikasi, bukan sekadar kompetitor media sosial,” imbuh Citra
Karya jurnalistik tidak selalu hadir dalam bentuk yang viral atau populer, namun memiliki potensi memberi dampak nyata bagi publik. Karena itu, generasi jurnalis perlu membekali diri dengan etika, kemampuan verifikasi, kecakapan membaca data, serta pemahaman atas realitas industri media. Pers yang sehat akan lahir dari jurnalis yang tidak mudah terjebak pada praktik klikbait dan tetap berpihak pada kepentingan publik. (Gisela)