Nur Ahmad Justine Ivana, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Untag Surabaya, menghadirkan inovasi teknologi tepat guna melalui tugas akhir bertajuk “Rancang Bangun Alat Pemisah dan Pemanas Padi Berbasis Suhu, Kelembapan, dan IoT”. Mahasiswa yang kerap disapa Justin ini mengembangkan alat tersebut dari persoalan nyata petani pascapanen yang masih mengandalkan panas matahari untuk mengeringkan gabah.
Metode tradisional itu sangat bergantung pada kondisi cuaca dan membutuhkan waktu lama, sehingga kualitas gabah kerap tidak merata. Ketika hujan turun, proses pengeringan terhambat dan petani terpaksa menjual gabah dalam kondisi lembap dengan harga lebih rendah. Kondisi inilah yang mendorong Justin merancang alat yang mampu menjaga kestabilan suhu dan kelembapan secara otomatis sekaligus memisahkan gabah dari sekam.
Sistem ini terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT), sehingga proses pengeringan dapat dipantau dan dikontrol secara lebih presisi.
“Inovasi ini saya buat karena melihat langsung banyak petani di desa saya di Gresik yang kesulitan saat musim hujan. Kalau gabah dijual dalam kondisi basah, harganya turun. Tapi kalau kering, nilainya jauh lebih tinggi,” ujarnya (18/2)
Alat tersebut bekerja menggunakan sensor suhu dan kelembapan untuk memastikan proses pengeringan berlangsung stabil. Mekanisme pemisahnya juga dirancang untuk meningkatkan efisiensi pascapanen dengan memisahkan sekam dan gabah secara lebih cepat dan rapi. Pada tahap pengujian, alat ini mampu mengeringkan gabah dari kondisi sangat basah hingga kering dalam waktu sekitar 10 menit.
Hasil tersebut menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan efisiensi waktu sekaligus menjaga kualitas hasil panen. Proses yang lebih cepat dan terkontrol tidak hanya membantu petani mempertahankan mutu gabah, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai jual di pasaran. Atas inovasi dan relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat, karya ini dinobatkan sebagai karya menarik versi media massa dalam rangkaian publikasi tugas akhir mahasiswa.
Justin berharap teknologi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai proyek akademik semata, melainkan dapat terus disempurnakan dan diterapkan secara luas di sektor pertanian.
“Harapan saya, teknologi ini bisa berkembang di masyarakat dan benar-benar membantu para petani, khususnya dalam meningkatkan efisiensi pascapanen,” tutupnya
Inovasi tersebut turut disorot dalam Wisuda ke 132 Untag Surabaya dan dinobatkan sebagai karya menarik versi media massa, sementara Justin dikukuhkan sebagai lulusan pada 14 Februari 2026. Karyanya menunjukkan bahwa riset mahasiswa dapat menjadi solusi konkret di lapangan sekaligus mendorong modernisasi pertanian berbasis sensor dan IoT yang lebih adaptif terhadap cuaca dan tantangan zaman. (Dini)