Cinta tanah air tak harus dimulai dari medan perang atau mimbar pidato. Di SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya, semangat itu ditanamkan sejak hari-hari pertama para siswa baru menginjakkan kaki di lingkungan sekolah. Tepatnya pada hari kedua kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Selasa, 16 Juli 2025, para peserta diajak merenungkan makna patriotisme dalam kehidupan mereka sebagai pelajar.
Berlangsung di Aula SMATAG, sesi bertajuk “Konsepsi dan Implementasi Patriotisme Bung Karno melalui KKN UNTAG Surabaya” menghadirkan narasumber Dia Puspita Sari, S.Sosio., M.Si., seorang dosen sekaligus pegiat pengabdian masyarakat dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Dia membuka materi dengan menyampaikan bahwa patriotisme bukanlah sesuatu yang usang, melainkan nilai luhur yang justru semakin relevan di era modern. Hal ini menekankan pentingnya membela dan membangun bangsa melalui sikap, pilihan hidup, dan partisipasi sosial yang nyata.
“Patriotisme itu bukan sekadar slogan, tapi tentang bagaimana kita mengambil peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan lewat hal sederhana seperti mencintai budaya lokal, menghargai sesama, dan menolak sikap konsumtif yang kebarat-baratan,” ujarnya (16/7)
Dia juga memperkenalkan kembali konsep Trisakti dari Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Konsep yang pada awalnya terdengar berat, perlahan menjadi mudah dipahami ketika dijabarkan dalam contoh konkret dengan mencintai produk lokal, bersikap jujur, menjaga gotong royong, dan menjauhi mentalitas penjajahan gaya baru.
Yang menarik, sesi ini bukan hanya monolog. Para siswa turut aktif bertanya, berdiskusi, bahkan berbagi pendapat tentang bagaimana mereka bisa menerapkan nilai-nilai kebangsaan di kehidupan sekolah. Mulai dari menjaga kedisiplinan, menghormati guru, hingga menjaga nama baik almamater.
Ketua OSIS SMATAG Surabaya, Tegar Adiluhur, mengaku senang bisa menghadirkan sesi pembekalan bertema kebangsaan.
“Banyak anak muda zaman sekarang mulai lupa pada nilai patriotisme, kami ingin mengingatkan bahwa cinta tanah air itu bukan kuno, tapi justru keren. Ini bukan tentang berteriak ‘Aku cinta Indonesia’, tapi membuktikannya lewat sikap sehari-hari,” tutur Tegar
Di SMATAG, upaya menanamkan semangat kebangsaan memang bukan hal baru. Upacara rutin, peringatan hari besar nasional, hingga program-program OSIS bertema kebangsaan sudah menjadi bagian dari budaya sekolah. Semua itu dirancang bukan hanya sebagai rutinitas, melainkan sebagai proses pembentukan karakter.
Tak hanya siswa yang antusias, para guru pendamping pun turut bangga. Melihat para peserta MPLS begitu terbuka dan terlibat aktif, harapan akan lahirnya generasi muda yang berpikir global tetapi tetap mencintai tanah air terasa lebih nyata.
Bagi SMATAG, MPLS bukan sekadar orientasi sekolah. Ini adalah titik awal pembentukan karakter, tempat nilai-nilai kebangsaan mulai tumbuh, dan momen di mana semangat Bung Karno kembali hidup di tengah generasi masa depan. (Eka)