RUAS 2026 BEM Psikologi Ajak Mahasiswa Refleksi Makna Pendidikan Tinggi

  • 02 April 2026
  • 182

Kegiatan Ruang Kelas Kastrat (RUAS) 2026 yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Untag Surabaya pada 31 Maret 2026 di Graha Widya Lt. 2 menghadirkan ruang diskusi reflektif bagi mahasiswa untuk menilai makna pendidikan tinggi di luar sekadar pencapaian gelar.


Mengangkat tema “Belajar di Kampus: Kita Dapat Apa Selain Gelar?”, kegiatan ini dipandu Nurul Qomariyah, S.Psi., M.Psi., Kepala Pengembangan Karir dan Alumni Untag Surabaya.


Sejak awal, suasana dibuat interaktif melalui sesi perkenalan berpasangan. Peserta diminta menyebutkan nama, fakta unik, dan kemampuan yang dimiliki. Narasumber menekankan pentingnya kepercayaan diri, karena sikap ragu dapat menjadi hambatan serius dalam adaptasi setelah lulus.


Diskusi kemudian diarahkan pada refleksi pribadi mahasiswa mengenai alasan menempuh pendidikan tinggi. Sebagian besar mengaku terdorong untuk meraih kesuksesan dan membanggakan orang tua. 


Namun, narasumber menekankan bahwa kuliah tidak selalu menjamin keberhasilan. Berdasarkan hasil tracer study kampus, masa tunggu kerja lulusan relatif singkat, kurang dari enam bulan, tetapi banyak yang bekerja tidak sesuai bidang studi dan masih di bawah standar upah minimum. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pendidikan tinggi dan realitas dunia kerja.


Fenomena tersebut memunculkan diskusi tentang realitas dunia kerja. Dibandingkan lulusan perguruan tinggi, lulusan SMA/SMK cenderung lebih stabil karena terbiasa dengan pekerjaan teknis spesifik, sementara lulusan sarjana dituntut fleksibilitas dan kemampuan berpikir kompleks.


Peserta juga menuliskan kesalahan mahasiswa yang sering terjadi, mulai dari rasa malu bertanya, takut mencoba hal baru, hingga lingkungan pergaulan yang kurang mendukung. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan mahasiswa tidak hanya pada akademik, tetapi juga pada pengembangan diri dan lingkungan sosial.


Nurul Qomariyah juga menanggapi fenomena konten di media sosial yang menyebut ‘kuliah itu scam’. Menurutnya, proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas, tetapi juga terbentuk melalui pengalaman, kemampuan komunikasi, dan interaksi lintas individu.


“Belajar itu kan bisa dari mana saja, termasuk dari pengalaman dan cara kita berkomunikasi dengan sesama. Mahasiswa perlu percaya diri, berani menyampaikan pendapat, dan memiliki attitude yang baik. IPK tinggi tidak akan berarti jika tidak diimbangi dengan sikap yang baik,” ujarnya (31/3)


Untuk mendukung kesiapan karier mahasiswa, pihak kampus melalui unit pengembangan karier menghadirkan program Employee Ability Journey. Program ini terdiri dari tiga tahapan: pre-career preparation, career preparation, dan job immersion, yang bertujuan membekali mahasiswa menghadapi dunia kerja secara komprehensif. 


Selain itu, kegiatan rutin seperti career awareness, goal setting, dan industrial insight juga digelar dengan menghadirkan praktisi dari berbagai bidang industri, sehingga mahasiswa mendapatkan gambaran nyata kebutuhan dunia kerja, termasuk penguasaan soft skill.


Melalui RUAS 2026, mahasiswa tidak hanya diajak memahami realitas pendidikan tinggi, tetapi juga terdorong untuk mengembangkan potensi diri secara aktif. Refleksi yang dihasilkan menjadi pengingat bahwa kuliah bukan sekadar proses akademik, melainkan perjalanan membentuk kapasitas, karakter, dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah lulus, serta kemampuan beradaptasi terhadap tantangan dunia kerja yang terus berkembang. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\