Isu pemilahan sampah yang masih rendah di masyarakat mendorong mahasiswa Untag Surabaya menghadirkan solusi berbasis teknologi. Tim dari Program Studi Informatika Untag Surabaya mengembangkan inovasi bertajuk “Smart Waste Vision: Prototype Aplikasi Berbasis Computer Vision untuk Deteksi dan Edukasi Pemilahan Sampah”.
Tim diketuai oleh Sindu Adji Laondeng Putra dan beranggotakan Edo Indra Pratama, Muhammad Fauzi Alvian, Muhammad Zazuli, Amelia Natasya Maharani, dan Fatimatus Sholiha, dengan pendampingan dosen Ir. Anang Pramono, S.Kom., M.M., M.Kom.
Karya mereka dipresentasikan dalam ajang 2nd National and International Science and Engineering Fair (2NISEEF) dan 7th Annual International Science and Engineering Fair (7AISEEF) kategori Environmental Science, yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA), organisasi internasional yang memfasilitasi kompetisi riset dan inovasi pelajar serta mahasiswa dari berbagai negara.
Kompetisi ini dilaksanakan pada 26–29 Januari 2026 di Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, dan tim Laondeng berhasil memperoleh medali perak.
Ketua tim, Sindu Adji Laondeng Putra, menjelaskan bahwa timnya mengembangkan prototipe aplikasi Android berbasis Computer Vision dan Convolutional Neural Network (CNN). Aplikasi memanfaatkan kamera smartphone untuk memindai objek sampah, mengenali jenis sampah seperti plastik, kertas, dan logam, lalu menampilkan informasi tentang kategori sampah, potensi daur ulang, edukasi pengelolaan, dampak lingkungan, hingga lokasi bank sampah terdekat.
“Inovasi ini berangkat dari persoalan lingkungan yang masih banyak ditemui, yakni rendahnya pemilahan sampah dari sumber, minimnya edukasi masyarakat tentang jenis sampah, tingginya sampah plastik yang tidak terkelola, serta rendahnya kesadaran zero waste. Indonesia sendiri termasuk negara dengan produksi sampah plastik tinggi, sementara banyak masyarakat belum memahami perbedaan sampah organik, anorganik, dan B3,” jelasnya (2/3)
Ketertarikan mengangkat ide ini berawal dari pengamatan sederhana di lingkungan sekitar kampus dan tempat tinggal. Ia melihat tempat sampah sudah dipisahkan, namun isinya tetap tercampur.
“Banyak orang tidak tahu bahwa botol tertentu bisa bernilai ekonomi. Edukasi lingkungan masih sebatas teori, belum ada teknologi praktis yang membantu langsung. Kami merasa teknologi seharusnya bisa membantu masalah ini secara langsung dan praktis. Sebagai mahasiswa teknik informatika, kami berpikir, kenapa tidak memanfaatkan AI untuk membantu masyarakat memilah sampah. Dari situlah ide ini lahir,” terang mahasiswa kelahiran 2005 tersebut
Keunggulan utama aplikasi ini terletak pada deteksi otomatis berbasis AI yang dipadukan dengan edukasi zero waste dan informasi nilai ekonomi sampah. Selain itu, aplikasi dirancang memiliki potensi pengembangan fitur lokasi bank sampah terdekat, mode disabilitas, serta peluang implementasi luas di berbagai wilayah.
Saat dipresentasikan di forum internasional, ide tersebut mendapat respons positif dari juri dan peserta. Inovasi dinilai realistis serta mengangkat masalah yang relevan secara global.
Mahasiswa asal Jombang ini menilai karyanya paling bermanfaat bagi masyarakat perkotaan, sekolah dan kampus, serta komunitas peduli lingkungan. Wilayah prioritas penerapan ditujukan pada kota dengan tingkat produksi sampah tinggi dan daerah yang sistem pemilahannya belum optimal.
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam isu lingkungan. Menurutnya, anak muda memiliki akses terhadap teknologi dan lebih adaptif terhadap inovasi digital, sehingga perubahan perilaku dapat dimulai dari generasi sekarang.
“Anak muda bukan hanya penonton isu lingkungan, tetapi bisa menjadi pencipta solusi,” ujarnya.
Ke depan, pengembangan aplikasi tidak berhenti pada tahap kompetisi. Laondeng dan tim berencana menambah dataset agar akurasi meningkat, melakukan uji coba lapangan skala kecil, berkolaborasi dengan bank sampah, serta mengembangkan versi beta. Target jangka panjangnya adalah menjadikan inovasi ini sebagai startup berbasis green technology.
“Ini bukan hanya tentang kompetisi atau penghargaan. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ide sederhana dari lingkungan sekitar bisa dikembangkan menjadi inovasi yang berdampak dan berkontribusi nyata melalui ilmu yang kami pelajari,” ungkapnya.
Bagi Laondeng dan tim, mengangkat isu lingkungan melalui karya teknologi merupakan bentuk tanggung jawab generasi muda yang tidak hanya melihat masalah, tetapi juga berupaya menawarkan solusi nyata.
Reporter