Untag Surabaya Bekali Mahasiswa Baru dengan Etika AI di PKKMB 2025

  • 09 September 2025
  • VaniaS
  • 3095

Artificial Intelligence (AI) bukan sekadar teknologi canggih, tetapi juga ujian integritas. Pesan itu disampaikan A.A.I. Prihandari Satvikadewi, S.Sos., M.Med.Kom., dosen Ilmu Komunikasi Untag Surabaya, saat memberikan pembekalan etika penggunaan AI dalam rangkaian PKKMB 2025, Selasa (2/9/2025).


Mengusung materi Etika Penggunaan AI di Perguruan Tinggi, dosen Ilmu Komunikasi ini menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, sementara kecerdasan sejati tetap ada pada manusia. “Kita sudah tidak mungkin menolak kehadiran AI. Artificial urusannya mesin, yang harus kita punya adalah our original intelligence. AI akan menjadi sahabat jika kita punya kecerdasan itu,” ujarnya.


Materi ini menjadi pembekalan awal untuk tugas Rekor MURI Komik Patriotisme Berbasis AI, selaras dengan tema PKKMB 2025 Merah Putih Berkibar, Patriotisme Berkobar. Setiap mahasiswa diwajibkan membuat satu lembar komik berukuran A3 bertema patriotisme berbasis prompt digital. Ribuan mahasiswa langsung diajak berlatih membuat prompt, memahami bahwa AI hanyalah mesin yang menyalin kecerdasan manusia.


Vika mengingatkan, AI tidak bisa menggantikan kemampuan berpikir kritis. “Jangan hilangkan kritisisme itu. Jangan menyerahkan semuanya pada AI. Bisa jadi AI membuat konten yang jauh dari maksud Anda dan jauh dari etika,” tegasnya. Vika menyoroti rendahnya minat baca di Indonesia yang menempati peringkat 31 dunia, dengan 91,45% bacaan hanya buku pelajaran sekolah. “Kalau mau kreatif membuat komik AI, mulailah dari membaca. Ide lahir dari bacaan, bukan dari mesin,” tambah Dosen Ilmu Komunikasi tersebut (2/9/25)


Dalam paparannya, Vika menjelaskan penerapan AI dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari asisten virtual seperti Siri, Google Assistant, dan Alexa, sistem rekomendasi di marketplace dan m-banking, chatbot untuk layanan pelanggan, hingga generative AI seperti ChatGPT dan Gemini. “Pentingnya memperbanyak kosakata untuk membuat prompt yang tepat agar hasil AI optimal,” tegas Vika


Etika penggunaan AI di perguruan tinggi mencakup menjaga daya kritis, melindungi data, mencegah diskriminasi digital, mempertimbangkan dampak lingkungan, serta memegang teguh integritas akademik seperti kejujuran, kepercayaan, keadilan, sikap terhormat, tanggung jawab, dan keberanian.


Sesi semakin menarik ketika mahasiswa bertanya soal hak cipta karya AI hingga penggunaan AI untuk memperbaiki tata bahasa. Vika menegaskan, hak cipta melekat pada ide dan kreativitas manusia, sementara plagiarisme tetap bisa terdeteksi meski menggunakan bantuan mesin.


Pembekalan ini menjadi bagian penting dari PKKMB 2025 bertema Merah Putih Mengakar, Patriotisme Berkobar. Untag Surabaya ingin memastikan teknologi modern dipadukan dengan nilai kebangsaan, sehingga mahasiswa tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga berintegritas dan berkarakter.


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\